tes
Simulasi LED Sederhana
Simulasi LED Sederhana
Proyek Arduino – Tinkercad
Jika simulasi tidak muncul di atas, silakan klik tombol di bawah untuk membukanya langsung di Tinkercad:
Buka Simulasi di TinkercadSimulasi LED Sederhana
Proyek Arduino – Tinkercad
Jika simulasi tidak muncul di atas, silakan klik tombol di bawah untuk membukanya langsung di Tinkercad:
Buka Simulasi di TinkercadPEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL
Salam Guru Penggerak!
Tergerak, Bergerak, Menggerakkan
Dokumentasi Kegiatan :
Dalam era di mana teknologi terus berkembang, kebutuhan untuk membuat keputusan pembelian yang bijak semakin penting. Salah satu cara untuk membantu konsumen dalam proses ini adalah melalui ulasan atau review produk. Sebuah review produk yang baik tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membimbing pembaca menuju keputusan yang tepat berdasarkan kebutuhan dan preferensi mereka.
Sebagai awal, seorang penulis review harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang produk yang akan direview. Mempelajari spesifikasi, fitur, dan penggunaan produk secara menyeluruh adalah langkah pertama untuk memberikan ulasan yang informatif. Misalnya, ketika mereview sebuah smartphone, penulis harus tahu tentang sistem operasi, kapasitas baterai, kualitas kamera, dan fitur-fitur unggulan lainnya.
Langkah selanjutnya dalam proses mereview adalah menggunakan produk tersebut secara langsung. Pengalaman praktis dengan produk memungkinkan penulis untuk memberikan wawasan yang lebih mendalam dan akurat. Dalam hal ini, seorang reviewer kamera digital, sebagai contoh, akan mampu berbicara tentang kualitas gambar, performa autofokus, dan kegunaan kamera dalam berbagai kondisi pencahayaan.
Penting untuk menjelaskan konteks penggunaan produk agar pembaca dapat memahami bagaimana produk berfungsi dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh, sebuah laptop mungkin memiliki performa yang luar biasa untuk tugas-tugas berat seperti pengeditan video, tetapi mungkin tidak cocok untuk mobilitas sehari-hari karena berat dan ukurannya.
Dalam memberikan ulasan, objektivitas adalah kunci. Menyoroti kelebihan produk adalah langkah penting, tetapi juga harus diimbangi dengan pengakuan terhadap kekurangan. Memberikan kritik secara konstruktif membantu pembaca untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan memahami apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.
Penting juga untuk membandingkan produk dengan pesaing sejenis. Hal ini memberikan konteks lebih lanjut dan membantu pembaca memahami posisi produk dalam pasar. Sebagai contoh, dalam mereview smartphone, penulis dapat membandingkan kinerja, harga, dan fitur dengan smartphone lain dalam rentang harga yang sama.
Struktur esai mereview produk harus jelas dan terorganisir. Mulai dari pengenalan produk, lanjutkan dengan pengalaman pengguna, kelebihan, kekurangan, dan akhirnya, kesimpulan serta rekomendasi. Penggunaan gambar, video, atau grafik juga dapat meningkatkan pemahaman pembaca.
Akhirnya, sebuah review harus mempertimbangkan audiens target. Apakah produk ini ditujukan untuk pengguna umum atau ahli di bidang tersebut? Bahasa dan pendekatan penulisan harus sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman target pembaca.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, sebuah esai mereview produk dapat menjadi panduan yang berguna bagi konsumen yang mencari informasi yang jelas dan dapat diandalkan sebelum membuat keputusan pembelian. Mereview produk adalah seni yang memadukan fakta, pengalaman pribadi, dan pemikiran analitis untuk memberikan pemahaman yang holistik tentang suatu produk.
Contoh review produk #1:
Judul: "Prestasi Tinggi dan Desain Elegan - Review Smartphone X123"
Pahami Produknya: Smartphone X123, yang dirilis bulan lalu, merupakan produk terbaru dari perusahaan terkenal Y-Tech. Dengan prosesor terbaru dan kamera canggih, ini menjanjikan pengalaman pengguna yang luar biasa.
Gunakan Produk Tersebut: Sebagai pengguna sehari-hari, saya telah menggunakan Smartphone X123 selama tiga minggu untuk pekerjaan sehari-hari, fotografi, dan hiburan.
Jelaskan Konteks Penggunaan: Smartphone ini sangat responsif dalam penggunaan sehari-hari, terutama saat multitasking. Kamera berkualitas tinggi membuatnya sempurna untuk fotografi dan merekam video, bahkan dalam kondisi cahaya rendah.
Berikan Pendapat yang Objektif: Kelebihannya termasuk desain premium, layar vibrant, dan baterai tahan lama. Namun, speaker terasa sedikit kurang kuat untuk penggunaan multimedia intensif.
Bandingkan dengan Produk Sejenis: Dibandingkan dengan smartphone sekelasnya, Smartphone X123 menonjol dalam hal kualitas kamera dan daya tahan baterai.
Tulis Dengan Jelas dan Terstruktur: Review dibagi menjadi bagian kelebihan, kekurangan, performa, dan kesimpulan untuk memudahkan pembaca dalam menavigasi.
Sertakan Foto dan Video: Sertakan beberapa foto yang diambil dengan kamera smartphone dan video singkat yang menunjukkan antarmuka pengguna dan kinerja aplikasi.
Perhatikan Target Pembaca: Review diformat untuk konsumen umum dengan menyediakan informasi teknis yang cukup untuk memberikan gambaran umum.
Berikan Skor atau Rating: Beri skor atau rating, misalnya, 4,5/5, untuk mencerminkan penilaian keseluruhan.
Sertakan Informasi Garansi dan Dukungan: Sertakan informasi tentang garansi, kebijakan pengembalian, dan dukungan pelanggan dari Y-Tech.
Berikan Rekomendasi Akhir: Kesimpulan menyatakan bahwa Smartphone X123 sangat direkomendasikan untuk mereka yang mencari kombinasi desain premium, performa tinggi, dan kamera berkualitas tinggi.
Semoga contoh ini memberikan gambaran tentang cara merinci review produk dengan baik. Ingatlah untuk tetap obyektif dan menyediakan informasi yang dapat membantu pembaca membuat keputusan yang informasional.
Contoh review produk #2:
Judul Review: Performa Unggul dan Kamera Canggih pada Smartphone X
Pendahuluan: Saya telah menggunakan smartphone X selama sebulan terakhir dan ingin berbagi pengalaman saya dengan produk ini. Smartphone X dihargai sebagai perangkat premium, dan dalam review ini, saya akan membahas kelebihan, kekurangan, dan kesan keseluruhan saya.
Kelebihan:
Kekurangan:
Kesimpulan:
Smartphone X adalah pilihan yang sangat baik bagi mereka yang mencari performa tinggi dan kualitas kamera yang luar biasa. Meskipun memiliki beberapa kekurangan, kelebihan produk ini jelas melampaui. Jika anggaran Anda memungkinkan, smartphone X layak dipertimbangkan untuk pengalaman smartphone yang mewah dan canggih.
Skor: 4.5/5
Contoh di atas mencakup beberapa aspek utama dari sebuah review produk, seperti kelebihan, kekurangan, kesan keseluruhan, dan rekomendasi akhir dengan memberikan skor. Anda dapat mengadaptasi struktur dan konten ini untuk membuat review produk sesuai dengan kebutuhan Anda.
Contoh review produk #3:
Pahami Produknya: Canon EOS XYZ adalah kamera digital full-frame dengan resolusi tinggi dan berbagai fitur canggih.
Gunakan Produk Tersebut: Saya telah menggunakan kamera ini selama enam bulan terakhir untuk berbagai keperluan, termasuk fotografi lanskap dan potret.
Jelaskan Konteks Penggunaan: Saya menggunakan kamera ini dalam berbagai kondisi cahaya dan cuaca, dari pemotretan di bawah sinar matahari terik hingga pengambilan gambar dalam kondisi cahaya rendah.
Berikan Pendapat yang Objektif: Kelebihan: Kualitas gambar luar biasa, bahkan dalam kondisi cahaya rendah. Sistem autofokus sangat cepat dan akurat. Desain ergonomis membuatnya nyaman digunakan dalam waktu yang lama.
Kekurangan: Harganya agak tinggi dibandingkan dengan pesaing sekelasnya. Ukuran dan beratnya mungkin menjadi tantangan bagi beberapa pengguna yang lebih mobile.
Bandingkan dengan Produk Sejenis: Dibandingkan dengan kamera sekelasnya, Canon EOS XYZ memberikan nilai tambah dengan sensor full-frame yang lebih besar dan kinerja autofokus yang lebih cepat.
Tulis Dengan Jelas dan Terstruktur:
Bagian 1: Pengenalan dan Spesifikasi
Bagian 2: Pengalaman Pengguna
Bagian 3: Kelebihan dan Kekurangan
Bagian 4: Kesimpulan dan Rekomendasi
Sertakan Foto dan Video: Sertakan beberapa contoh foto yang diambil dengan kamera tersebut, serta video demonstrasi fungsi-fungsi utama.
Perhatikan Target Pembaca: Review ini ditujukan untuk fotografer amatir hingga profesional yang mencari kamera dengan kualitas tinggi dan fitur canggih.
Berikan Skor atau Rating: 9/10 - Sebuah kamera yang luar biasa dengan performa tinggi, meskipun dengan harga yang cukup tinggi.
Sertakan Informasi Garansi dan Dukungan: Sertakan informasi mengenai garansi produk dan kemudahan mendapatkan dukungan teknis dari Canon.
Berikan Rekomendasi Akhir: Saya sangat merekomendasikan Canon EOS XYZ kepada mereka yang mencari kamera full-frame dengan kualitas gambar yang istimewa dan performa autofokus yang handal.
Dengan struktur seperti ini, review menjadi lebih informatif dan mudah dipahami oleh pembaca yang mungkin tengah mencari informasi untuk membuat keputusan pembelian.
Dalam sebuah diskusi kelompok, terdapat beberapa peran atau aktor yang berperan dalam menjalankan proses diskusi. Berikut adalah beberapa aktor utama dalam sebuah diskusi kelompok beserta deskripsi tugasnya:
Moderator/Fasilitator/Pemimpin Diskusi:
Deskripsi Tugas: Bertanggung jawab untuk memfasilitasi dan mengarahkan jalannya diskusi. Moderator harus memastikan agar semua anggota kelompok memiliki kesempatan untuk berbicara, menjaga keteraturan, dan memastikan tujuan diskusi tercapai.
Notulis/Recorder:
Deskripsi Tugas: Bertanggung jawab untuk mencatat poin-poin penting yang dibahas selama diskusi. Notulis juga dapat membuat catatan pertemuan atau ringkasan hasil diskusi untuk referensi kelompok di masa mendatang.
Pembahas Utama:
Deskripsi Tugas: Bertugas membawakan atau memperkenalkan topik utama yang akan dibahas dalam diskusi. Pembahas utama harus memastikan bahwa informasi yang disajikan jelas dan relevan, serta dapat menjadi dasar bagi diskusi lebih lanjut.
Pemberi Argumen atau Pendukung:
Deskripsi Tugas: Bertanggung jawab untuk menyajikan argumen atau informasi pendukung terkait topik yang sedang dibahas. Tugas mereka adalah memberikan pemahaman lebih lanjut atau sudut pandang yang mendukung diskusi.
Pemantau Waktu/ Time Keeper:
Deskripsi Tugas: Bertanggung jawab untuk mengatur dan mengawasi waktu agar diskusi berjalan sesuai jadwal. Waktu keeper memastikan setiap topik dibahas dalam batas waktu yang telah ditentukan.
Pendukung/Pendengar:
Deskripsi Tugas: Memerhatikan dengan cermat apa yang dibicarakan oleh anggota lain. Pendukung mendukung ide-ide yang disampaikan oleh anggota lain, memberikan umpan balik positif, dan membantu menciptakan lingkungan yang terbuka dan kolaboratif.
Pengkritik/Kritikus Positif:
Deskripsi Tugas: Menyajikan pandangan kritis secara konstruktif. Pemikir kritis membantu menyempurnakan ide-ide dengan memberikan masukan yang membangun tanpa membuat anggota kelompok merasa tertekan atau dihakimi.
Anggota Kelompok:
Deskripsi Tugas: Berpartisipasi aktif dalam diskusi, menyumbangkan ide, mengajukan pertanyaan, dan memberikan umpan balik terhadap ide-ide anggota lainnya. Tanggung jawab utama anggota kelompok adalah berkontribusi untuk mencapai tujuan diskusi.
Facilitator/Koordinator:
Deskripsi Tugas: Menjadi perantara antara anggota kelompok dan memastikan bahwa semua orang memiliki peluang untuk berbicara. Facilitator juga dapat membantu mengatasi konflik dan menjaga atmosfer positif.
Presenter/Penyaji:
Deskripsi Tugas:
Setiap anggota kelompok dapat memiliki kombinasi dari peran-peran ini, tergantung pada dinamika dan kebutuhan spesifik dari diskusi tersebut. Seiring berjalannya waktu, peran dapat bergeser tergantung pada perkembangan diskusi dan kebutuhan kelompok.
Literasi siswa dalam mata pelajaran informatika di SMP mencakup berbagai aspek keterampilan dan pemahaman yang berkaitan dengan dunia teknologi, pemrograman, penggunaan perangkat lunak, dan literasi digital. Berikut adalah beberapa aspek literasi siswa dalam mata pelajaran informatika di SMP:
Literasi siswa dalam mata pelajaran informatika tidak hanya mencakup pemahaman konsep-konsep teknis, tetapi juga keterampilan penggunaan teknologi secara bijaksana, kreativitas, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang terus berubah. Dengan literasi informatika yang kokoh, siswa dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia digital yang terus berkembang.
Penerapan literasi ke siswa
Penerapan literasi ke siswa dalam mata pelajaran informatika di SMP dapat mencakup beberapa kegiatan dan produk yang mencerminkan pemahaman mereka tentang konsep informatika, keterampilan pemecahan masalah, dan literasi digital. Berikut adalah contoh bentuk penerapan literasi dan produk yang dihasilkan dalam konteks mata pelajaran informatika:
1. Penulisan Laporan atau Esai:
Kegiatan Literasi:
Produk Literasi: Laporan atau esai yang mencerminkan pemahaman siswa tentang isu-isu terkini di bidang informatika dan dampaknya.
2. Proyek Penelitian Teknologi:
Kegiatan Literasi:
Produk Literasi: Poster, presentasi, atau laporan penelitian yang menyajikan temuan dan analisis siswa tentang topik teknologi yang mereka teliti.
3. Presentasi Mengenai Tren Teknologi:
Kegiatan Literasi:
Produk Literasi: Presentasi lisan yang mencakup pemahaman siswa tentang tren teknologi, implikasinya, dan tanggapannya terhadap perkembangan tersebut.
4. Analisis Aplikasi atau Perangkat Lunak:
Kegiatan Literasi:
Produk Literasi: Laporan analisis atau panduan pengguna yang mencerminkan pemahaman siswa tentang aplikasi atau perangkat lunak tersebut.
5. Pembuatan Blog Teknologi:
Kegiatan Literasi:
Produk Literasi: Blog pribadi atau posting online yang mencerminkan pemahaman siswa tentang topik informatika dan teknologi.
6. Permainan Edukasi Teknologi:
Kegiatan Literasi:
Produk Literasi: Permainan atau aplikasi edukatif yang mencerminkan pemahaman siswa tentang konsep informatika dan teknologi.
7. Partisipasi dalam Komunitas Online:
Kegiatan Literasi:
Produk Literasi: Kiriman online atau artikel pendek yang mencerminkan pemahaman siswa tentang isu-isu terkini di dunia teknologi.
8. Kolaborasi dalam Proyek Pengembangan Perangkat Lunak Sederhana:
Kegiatan Literasi:
Produk Literasi: Perangkat lunak yang dihasilkan sebagai hasil kolaborasi tim, dan dokumentasi pengembangan proyek.
Penerapan literasi dalam konteks mata pelajaran informatika dapat mencakup berbagai jenis produk yang melibatkan pemahaman siswa tentang konsep-konsep teknologi, keterampilan pemecahan masalah, dan kemampuan literasi digital. Produk-produk ini juga mencerminkan bagaimana siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam bentuk konkret yang dapat dihasilkan dan dinilai.
Apa itu program literasi sekolah? Bagaimana penerapannya ke siswa?
Program literasi sekolah adalah inisiatif pendidikan yang dirancang untuk meningkatkan tingkat literasi siswa di tingkat sekolah. Program ini tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemahaman teks, keterampilan berpikir kritis, dan kemampuan berkomunikasi secara efektif. Tujuan utama dari program literasi sekolah adalah memberikan dasar yang kuat bagi kemampuan literasi siswa di semua mata pelajaran dan membekali mereka dengan keterampilan yang diperlukan untuk sukses dalam kehidupan.
Komponen Umum Program Literasi Sekolah:
2. Pemahaman Teks:
3. Kemampuan Berpikir Kritis:
4. Kemampuan Berbicara dan Mendengarkan:
5. Penggunaan Teknologi dalam Literasi:
Penerapan ke Siswa:
1. Penilaian Awal:
2. Differensiasi Instruksi:
3. Pengembangan Program Bacaan:
4. Model Pembelajaran Literasi:
5. Pelatihan Guru:
6. Pemantauan dan Evaluasi:
Program literasi sekolah dirancang untuk menjadi holistik, mencakup berbagai aspek pembelajaran literasi dan memberikan dukungan kontinu kepada siswa. Penerapannya membutuhkan kerjasama antara guru, siswa, orang tua, dan pihak-pihak terkait untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung perkembangan literasi yang kokoh pada setiap tingkatan sekolah.
Contoh produk literasi siswa :
1. Puisi atau Karya Sastra: Siswa dapat menulis puisi atau karya sastra yang mencerminkan pemahaman mendalam tentang elemen-elemen sastra, penggunaan bahasa yang efektif, dan interpretasi kreatif terhadap topik tertentu.
2. Laporan Penelitian atau Esei: Siswa menulis laporan penelitian atau esei yang menunjukkan kemampuan mereka dalam mencari, menganalisis, dan mensintesis informasi dari berbagai sumber.
3. Presentasi Lisan: Siswa menyampaikan presentasi lisan mengenai topik tertentu, menunjukkan kemampuan berbicara dengan percaya diri, organisasi ide, dan penggunaan bahasa yang sesuai.
4. Proyek Jurnalisme: Siswa membuat artikel jurnalisme atau laporan berita yang mencakup wawancara, investigasi, dan penyelidikan terhadap suatu isu atau peristiwa.
5. Buku atau Novel Mini: Siswa menulis buku atau novel mini yang menggambarkan cerita atau konsep tertentu, menunjukkan pemahaman akan struktur naratif dan pengembangan karakter.
6. Buku Jurnal atau Blog atau Posting Online: Siswa mengelola blog atau membuat posting online yang mencakup tulisan reflektif, ulasan buku, atau pemikiran tentang topik-topik tertentu.
7. Komik Edukatif: Siswa membuat komik yang menggabungkan narasi, gambar, dan dialog untuk menyampaikan informasi atau cerita dengan cara yang menarik.
8. Portofolio Pribadi: Siswa menyusun portofolio literasi pribadi yang mencakup kumpulan tulisan, proyek, dan hasil karya literasi lainnya selama satu periode tertentu.
9. Drama atau Pertunjukan Teater: Siswa menulis dan menyajikan skenario drama atau pertunjukan teater yang menunjukkan pemahaman akan elemen dramatik dan keterampilan berbicara di depan umum.
10. Majalah Sekolah atau Karya Seni Literasi: Siswa berkolaborasi untuk menciptakan majalah sekolah atau karya seni literasi yang mencakup berbagai bentuk literasi, seperti cerpen, puisi, dan ilustrasi.
11. Buku Ilustrasi Anak-anak: Siswa menulis dan mengilustrasikan buku anak-anak yang mengajarkan nilai-nilai moral atau memberikan pemahaman baru tentang suatu konsep.
12. Debat atau Forum Diskusi: Siswa berpartisipasi dalam debat atau forum diskusi, menunjukkan kemampuan menyusun argumen, menyampaikan pendapat, dan merespons pandangan orang lain.
13. Proyek Penyelidikan Multimedia: Siswa menciptakan proyek penyelidikan multimedia yang menggunakan video, suara, dan teks untuk menyajikan temuan penelitian atau cerita.
14. Podcast Pendidikan: Siswa membuat podcast pendidikan yang mencakup wawancara, opini, atau konten pendidikan lainnya.
15. Pameran Seni Literasi: Siswa menyelenggarakan pameran seni literasi yang mencakup karya tulis, seni visual, dan proyek literasi lainnya untuk dipamerkan di sekolah atau di lingkungan masyarakat.
16. Penyusunan Panduan Bacaan: Siswa menyusun panduan bacaan atau rekomendasi buku yang mencakup analisis, review, dan rekomendasi berdasarkan preferensi pembaca.
17. Rancangan Kampanye Literasi: Siswa merancang kampanye literasi yang mencakup kegiatan promosi membaca, perencanaan acara, dan materi pemasaran untuk meningkatkan minat membaca di sekolah atau komunitas.
18. Rancangan Situs Web Edukasi: Siswa merancang situs web yang berisi informasi dan analisis mengenai topik literasi atau teks tertentu.
19. Peta Konsep atau Diagram Mind Map: Siswa membuat peta konsep atau diagram mind map untuk merepresentasikan hubungan antaride, tema, dan konsep dalam suatu teks atau materi pembelajaran.
20. Permainan Kata atau Kuis Literasi: Siswa merancang permainan kata atau kuis literasi untuk melibatkan teman-teman sekelas mereka. Ini mencerminkan kreativitas dan pemahaman mereka tentang konsep-konsep literasi.
21. Esai Argumentatif: Siswa menulis esai yang menyajikan argumen yang terorganisir dan didukung oleh bukti konkret. Esai ini menunjukkan kemampuan mereka untuk menyusun argumen yang kohesif dan menggunakan bukti untuk mendukung pendapat mereka.
22. Proyek Penelitian: Siswa melakukan proyek penelitian yang melibatkan pemilihan topik, pengumpulan informasi, dan penyajian hasil penelitian mereka. Ini mencerminkan kemampuan mereka dalam mencari informasi, mengevaluasi sumber, dan menyajikan temuan secara sistematis.
Produk-produk ini tidak hanya menunjukkan kemahiran literasi siswa tetapi juga memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri mereka dengan cara yang kreatif dan bermakna. Selain itu, produk-produk ini dapat digunakan sebagai alat penilaian yang baik untuk mengukur perkembangan literasi siswa secara holistik.
Semoga bermanfaat.
PEMBELAJARAN DIFERENSIASI MODEL 4 C: CONNECTION, CHALLENGE, CONCEPT, CHANGE
Oleh :Jurnal
refleksi dwimingguan ini saya tulis setelah berpartisipasi dalam proses
pendidikan Angkatan ke-9 Guru Penggerak. Jurnal ini berkaitan dengan pemahaman
saya terhadap Modul 2.1 "Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan
Murid". Dalam menyusun jurnal ini, saya mengadopsi model 4F yang meliputi
Fakta (peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (temuan/pembelajaran), dan
Future (rencana tindakan).
Berikut
ini hasil refleksi saya selama mengikuti Pendidikan guru penggerak Angkatan 9 selama
dua minggu ini:
Fact
(Peristiwa)
Dalam
dwi mingguan kelima, dari tanggal 20 oktober hingga 2 nopember 2023, seluruh
Calon Guru Penggerak Angkatan 9 mempelajari Modul 2.1 dan mengikuti serangkaian
kegiatan pelatihan di LMS (Learning Management System) sesuai jadwal yang telah
ditentukan, dipandu oleh Pengajar Praktik, Fasilitator, dan Instruktur.
Pelatihan ini mengikuti alur MERDEKA, yaitu Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep,
Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar
Materi, dan Aksi Nyata.
Kegiatan
diawali dengan mengerjakan Pre-test paket modul 2 dan dilanjutkan dengan
mempelajari Mulai dari Diri dan Eksplorasi Konsep dengan moda mandiri pada
tanggal 20 oktober 2023.
Eksplorasi
Konsep dilanjutkan pada tanggal 23-24 oktober 2023 melalui Forum Diskusi. Dalam
eksplorasi konsep ini, banyak konsep diperoleh, termasuk disiplin positif,
teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru,
kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi.
Video
Conference di alur Ruang Kolaborasi sesi 1 dilaksanakan pada hari rabu, tanggal
25 Oktober 2023, pukul 15.00 s.d 17.45 WIB. Kelas dibagi menjadi 4 kelompok
sesuai jumlah kasus yang akan dianalisis dalam diskusi. Saya termasuk kelompok 4
(SMA/SMK) bersama rekan Calon Guru Penggerak (CGP) lainnya, yaitu Pak Slamet, dan
Ibu Iza. Kelompok ini berdiskusi untuk menganalisis kasus penerapan disiplin
positif, yang kemudian dipresentasikan pada Video Conference alur Ruang
Kolaborasi sesi 2 pada hari kamis, tanggal 26 oktober 2023, pukul 15.00 s.d
17.45 WIB.
Demonstrasi
Kontekstual dilaksanakan pada tanggal 27 oktober hingga 1 nopember 2023. Di
bagian ini saya saya menyusun RPP untuk pembelajaran berdiferensiasi dalam mata
pelajaran Informatika dan fokus pada materi Sistem Komputer kelas VII.
Pada
hari selasa, tanggal 31 Oktober 2023, pukul 15.30 s.d 17.00 WIB, saya mengikuti
sesi elaborasi pemahaman melalui Video Conference (vcon) bersama Instruktur, Ibu
Reni Nurhapsari (201511896810@guruku.id). Dalam sesi ini, saya sangat bersyukur
karena mendapat panduan yang sangat jelas dari instruktur yang luar biasa, Ibu
Desi Andriani. Beliau memberikan gambaran yang sangat terperinci tentang
penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.
Ketika
saya menyusun koneksi antar materi, saya menyadari bahwa semua materi yang
telah saya pelajari dari modul 1.1 hingga 2.1 sangat erat kaitannya dengan
prinsip memberikan prioritas pada proses pendidikan kepada para murid.
Sebagai
tindakan nyata yang telah saya lakukan, saya telah menerapkan pembelajaran
berdiferensiasi pada kelas VII SMP dalam pelajaran Informatika.
Feeling
(Perasaan)
Saya
merasa sangat bersyukur memiliki kesempatan untuk memperdalam pemahaman tentang
Pembelajaran Berdiferensiasi. Materi dan interaksi dengan rekan-rekan telah
membuat saya semakin termotivasi untuk mengimplementasikan pendekatan ini dalam
pengajaran saya.
Saya
merasa optimis dan antusias untuk menjalankan pembelajaran yang lebih mendukung
kebutuhan belajar individu murid saya. Terlibat dalam sesi ruang kolaborasi dan
berdiskusi dengan kelompok telah memperkaya pemahaman saya, dan saya merasa
lebih siap untuk menghadapi tantangan dalam mengelola keragaman di kelas.
Finding
(Pembelajaran)
Dalam
modul ini, saya belajar bahwa Pembelajaran Berdiferensiasi adalah upaya guru
untuk menyesuaikan proses pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan belajar
individu murid. Kunci utama dalam pembelajaran berdiferensiasi adalah merespon
kebutuhan belajar murid dengan cermat. Penting untuk memiliki tujuan
pembelajaran yang jelas, merencanakan respons terhadap kebutuhan belajar murid,
menciptakan lingkungan belajar yang mengundang, mengelola kelas dengan efektif,
dan melakukan penilaian berkelanjutan.
Saya
juga memahami bahwa kebutuhan belajar murid dapat dikategorikan dalam tiga
aspek: kesiapan belajar, minat, dan profil belajar. Kesiapan belajar adalah
kapasitas murid untuk mempelajari materi baru, minat adalah faktor psikologis
yang memengaruhi motivasi belajar, dan profil belajar adalah cara unik murid
dalam memproses informasi.
Dalam
konteks pembelajaran berdiferensiasi, saya menemukan tiga strategi utama:
diferensiasi konten (mengubah materi pembelajaran), diferensiasi proses
(mengubah cara pembelajaran disampaikan), dan diferensiasi produk (mengubah
tugas atau penilaian). Saya merasa sangat tertarik untuk mengimplementasikan
strategi ini dalam kelas saya.
Future
(Penerapan)
Setelah
menyelesaikan modul ini, saya berencana untuk melakukan asesmen formatif awal
untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar individu murid. Saya juga akan
merencanakan dan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi dalam mata
pelajaran yang saya ajarkan. Saya berharap dapat berkolaborasi lebih intensif
dengan rekan guru, terutama mereka yang memiliki pengalaman dalam pembelajaran
berdiferensiasi.
Selanjutnya,
saya akan berusaha untuk membagikan praktik baik saya dengan rekan-rekan
sejawat agar keberpihakan pada murid dan pembelajaran berdiferensiasi dapat
menjadi budaya di sekolah kami. Saya yakin bahwa pengembangan diri ini akan
membantu saya menjadi guru yang lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan
belajar murid.
Demikian
refleksi dwi mingguan saya tentang Modul 2.1 mengenai Pembelajaran
Berdiferensiasi. Melalui perjalanan ini, saya berharap dapat terus tumbuh dan
memberikan dampak positif pada pembelajaran di sekolah. Terima kasih dan semoga
bermanfaat.
Salam
Guru Penggerak!
Budaya Positif
Oleh :
Achmad Falichul Hidayat, S.Kom
SMP Negeri 2 Lamongan
CGP Angkatan 9 Kab. Lamongan, Jawa Timur
Dalam
kesempatan ini, saya akan menyampaikan jurnal refleksi dwi mingguan saya pada
Modul 1.4 tentang Budaya Positif. Jurnal refleksi ini menjadi komitmen rutin
setiap selesai menyelesaikan materi pada setiap modul, dan merupakan tugas
wajib bagi semua Calon Guru Penggerak. Saya akan memaparkan refleksi
menggunakan model 4F, yaitu: 1. Facts (Peristiwa), 2. Feelings (Perasaan), 3.
Findings (Pembelajaran), 4. Future (Penerapan).
Berikut
ini hasil refleksi saya selama mengikuti Pendidikan guru penggerak Angkatan 9 selama
dua minggu ini:
Fact
(Peristiwa)
Dalam
dwi mingguan keempat, dari tanggal 29 September hingga 19 Oktober 2023, seluruh
Calon Guru Penggerak Angkatan 9 mempelajari Modul 1.4 dan mengikuti serangkaian
kegiatan pelatihan di LMS (Learning Management System) sesuai jadwal yang telah
ditentukan, dipandu oleh Pengajar Praktik, Fasilitator, dan Instruktur.
Pelatihan ini mengikuti alur MERDEKA, yaitu Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep,
Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar
Materi, dan Aksi Nyata. Juga, Pendampingan Individu (PI) dilaksanakan sebulan
sekali pada tanggal 9-13 Oktober 2023.
Kegiatan
dimulai dengan Mulai dari Diri dan Eksplorasi Konsep dengan moda Mandiri pada
tanggal 29 September 2023.
Eksplorasi
Konsep dilanjutkan pada tanggal 2-5 Oktober 2023 melalui Forum Diskusi. Dalam
eksplorasi konsep ini, banyak konsep diperoleh, termasuk disiplin positif,
teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru,
kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi.
Video
Conference di alur Ruang Kolaborasi sesi 1 dilaksanakan pada hari jumat, tanggal
6 Oktober 2023, pukul 18.00 s.d 20.45 WIB. Kelas dibagi menjadi 3 kelompok
sesuai jumlah kasus yang akan dianalisis dalam diskusi. Saya termasuk kelompok
2 bersama rekan Calon Guru Penggerak (CGP) lainnya, yaitu Pak Ubaid, Ibu Umi,
dan Ibu Iza. Kelompok ini berdiskusi untuk menganalisis kasus penerapan
disiplin positif, yang kemudian dipresentasikan pada Video Conference alur
Ruang Kolaborasi sesi 2 pada hari senin, tanggal 9 oktober 2023, pukul 15.00
s.d 17.45 WIB.
Demonstrasi
Kontekstual dilaksanakan pada tanggal 10 dan 11 Oktober 2023. Dalam kegiatan
ini, CGP berlatih menerapkan segitiga restitusi dengan mengambil dua kasus
pembelajaran di sekolah. Tantangan muncul karena CGP diminta untuk
mempraktikkan langsung dengan peserta didik sambil direkam untuk diunggah di
LMS. Setelah itu, kami melanjutkan untuk membuat aksi nyata yang akan diunggah
ke LMS.
Pada
hari kamis, tanggal 12 Oktober 2023, pukul 15.30 s.d 17.00 WIB, saya mengikuti
sesi elaborasi pemahaman melalui Video Conference (vcon) bersama Instruktur,
Bapak bambang Siswanto (201510283072@guruku.id). Dalam sesi ini, beliau
memberikan penguatan terkait modul 1.4 budaya positif. Selanjutnya, kami
diminta untuk membuat koneksi antara materi sebelumnya dengan materi saat ini,
membuat kesimpulan, dan menjawab pertanyaan panduan dalam materi koneksi
materi. Setelah itu, kami diwajibkan membuat tabel rancangan aksi nyata.
Pada
tanggal 17 oktober, saya mengikuti post tes paket modul 1, di mana saya
diberikan waktu satu jam untuk menjawab 20 soal pilihan ganda terkait materi
tersebut.
Feeling
(Perasaan)
Setelah
mempelajari Modul 1.4, perasaan saya menjadi sangat senang dan semakin antusias
untuk menerapkan materi yang telah dipelajari. Saat saya mulai menerapkan
pembuatan keyakinan kelas, saya menemukan pengalaman yang berbeda dan menarik.
Dalam proses ini, murid dengan kesadarannya mengungkapkan nilai-nilai kebajikan
dan disiplin positif yang akan diyakininya.
Saat
melakukan kegiatan pembuatan keyakinan kelas, perasaan saya menjadi sangat
senang karena ternyata murid juga antusias dan aktif dalam melaksanakannya.
Saya merasa bahagia melihat partisipasi mereka dalam proses ini. Selain itu,
ketika saya terlibat dalam praktik segitiga restitusi untuk memperbaiki
kesalahan murid, saya merasakan kepuasan tersendiri. Saat melakukan restitusi,
saya sangat menghargai ketulusan murid yang bersedia terbuka mengenai
permasalahan yang dihadapi dan bagaimana mereka berkomitmen untuk
memperbaikinya.
Pentingnya
penghargaan dan ketulusan dalam proses restitusi membuat saya merasa senang dan
termotivasi untuk terus melibatkan murid dalam pengambilan tanggung jawab atas
tindakan mereka. Selain itu, ketika murid melanggar peraturan dan harus
menerima konsekuensi sesuai dengan yang disepakati sebelumnya, saya merasa
bahwa hal ini merupakan bagian penting dari proses pembelajaran yang
bertanggung jawab dan adil. Perasaan ini semakin memperkuat tekad saya untuk
memberikan dampak positif dalam pembelajaran dan perkembangan murid.
Finding
(Pembelajaran)
Pembelajaran
bermakna yang saya peroleh setelah mempelajari Modul 1.4 tentang budaya positif
adalah bahwa sebagai calon guru penggerak, penting untuk menempatkan diri dalam
posisi kontrol yang tepat dalam menerapkan budaya positif di sekolah. Posisi
kontrol tersebut dapat diibaratkan sebagai manajer, di mana segitiga restitusi
menjadi solusi yang efektif ketika ada murid yang melanggar keyakinan kelas.
Penerapan
segitiga restitusi sebagai bentuk penyelesaian konflik memberikan dampak
positif. Restitusi menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan
mereka dan kembali ke kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat (Gossen;
2004). Hal ini memastikan bahwa proses penyelesaian masalah berjalan dengan
damai, sambil memperkuat karakter murid. Dengan demikian, mereka tidak hanya
menyelesaikan konflik, tetapi juga berkembang menjadi individu yang lebih baik.
Penerapan
segitiga restitusi dalam menanggapi pelanggaran keyakinan kelas bukan hanya
sebagai tindakan disipliner, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mendidik dan
memperkuat karakter murid. Pendekatan ini memberikan kontribusi positif
terhadap pembentukan identitas dan perkembangan murid, sehingga mereka dapat
kembali ke kelompoknya dengan karakter yang lebih kuat dan lebih baik.
Future
(Penerapan)
Saya
akan berusaha mewujudkan budaya positif dengan mengimplementasikan
konsep-konsep terkait, seperti disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi,
hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia,
keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini,
diharapkan bahwa ke depannya saya dapat membangun kerjasama dan kolaborasi yang
lebih baik dengan seluruh warga sekolah dan pihak terkait.
Demikian
refleksi dwi mingguan saya tentang Modul 1.4 mengenai Budaya Positif. Secara
keseluruhan, Modul 1.4 ini mempelajari tentang pentingnya posisi kontrol dan
segitiga restitusi menjadi landasan untuk membentuk karakter murid dengan damai
dan memperkuat identitas mereka. Saya berharap dapat mengimplementasikan dengan
maksimal dari apa yang sudah saya pelajari di modul 1.4 ini. Terima kasih dan
semoga bermanfaat.
Salam
Guru Penggerak!
Visi Guru PenggeraK
Oleh :Dalam
kesempatan ini, saya ingin menyampaikan refleksi dwi mingguan terkait Modul 1.3
tentang visi guru penggerak. Jurnal ini menjadi sarana bagi saya untuk merenung
setelah mengikuti kegiatan pendidikan, dan saya berkomitmen untuk secara rutin
menulisnya setiap dua minggu.
Pertama-tama,
saya ingin berbicara tentang peristiwa-peristiwa yang saya alami selama
kegiatan pembelajaran pada Modul 1.3. Saya berhasil menyelesaikan semua materi
yang disajikan dan merasa telah memperoleh banyak pengetahuan baru. Peristiwa
tersebut menjadi landasan utama dalam tulisan refleksi ini.
Selanjutnya,
mari kita bahas perasaan saya selama kegiatan tersebut. Saya merasa antusias
dan termotivasi untuk terus belajar. Pemahaman tentang visi guru penggerak
membawa dampak positif pada semangat dan dedikasi saya sebagai calon guru
penggerak.
Berbicara
tentang pembelajaran, saya menggunakan pendekatan model 4F, yaitu Fact
(peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), dan Future
(penerapan). Sebagai fakta, saya mengenali bahwa visi guru penggerak bukan
hanya sebatas konsep, tetapi juga menjadi landasan bagi transformasi
pendidikan. Perasaan antusias tersebut juga tercermin dalam pembelajaran saya,
di mana saya merasa semakin siap untuk menjadi agen perubahan di dunia
pendidikan.
Dari
segi pembelajaran, saya menemukan bahwa visi guru penggerak membuka ruang untuk
meningkatkan kualitas pendidikan. Saya memahami pentingnya memiliki visi yang
jelas dan kemampuan untuk menginspirasi orang lain. Ini menjadi temuan berharga
yang akan saya terapkan dalam perjalanan karier pendidikan saya.
Ketika
berpikir ke depan, saya merencanakan untuk menerapkan visi guru penggerak ini
dalam tindakan sehari-hari saya sebagai calon guru. Saya ingin menjadi pemimpin
yang dapat memotivasi dan membimbing siswa serta rekan kerja menuju perubahan
positif dalam dunia pendidikan.
Berikut
ini hasil refleksi saya selama mengikuti Pendidikan guru penggerak Angkatan 9 selama
dua minggu ini:
Fact
(Peristiwa)
Pada
minggu ketiga bulan september 2023, tepatnya pada hari senin, 18 september
2023, saya memulai proses pembelajaran materi "Mulai dari Diri" dan
"Eksplorasi Konsep" secara mandiri, sesuai dengan arahan dari Ibu Ninik
Widayanti sebagai fasilitator. Modul 1.3 memiliki serangkaian tahapan kegiatan
yang telah saya lalui, yakni Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang
Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi,
dan Aksi Nyata.
Pada
tahap Mulai dari Diri, saya merumuskan visi sebagai seorang guru penggerak yang
sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Saya menyadari pentingnya memiliki visi
yang berpihak pada murid sebagai dasar segala inisiatif perubahan dalam
pendidikan. Visi dianggap sebagai harapan besar yang diinginkan di masa depan,
dan sebagai guru, saya harus mampu menyusun visi yang melampaui zamannya.
Dalam
tahap Eksplorasi Konsep, saya memahami betapa krusialnya visi yang mendukung
murid sebagai landasan bagi inisiatif perubahan dalam dunia pendidikan. Saya
menyadari bahwa guru bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga
bertanggung jawab atas kesuksesan murid dalam melangkah ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi.
Untuk
mewujudkan visi tersebut dan menjalankan proses perubahan, saya diperkenalkan
pada pendekatan atau paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA
merupakan pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis
kekuatan, menggunakan prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif.
Pendekatan IA diterapkan melalui tahapan BAGJA: Buat pertanyaan, Ambil
pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, dan Atur eksekusi.
Pada
hari rabu tanggal 20 September 2023, diadakan forum diskusi melalui Ruang
Kolaborasi LMS pada pukul 15.00 s.d 18.00. Dalam forum ini, kami saling
berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan memberikan komentar terhadap pendapat
teman-teman lain. Kami diminta untuk membuat prakarsa perubahan dan merumuskan
tahapan BAGJA sesuai dengan prakarsa perubahan kelompok.
Hasil
diskusi kelompok dipresentasikan secara bergantian pada hari kamis tanggal 21
september 2023 pukul 15.00 s.d 18.00 WIB sesuai dengan tugas masing-masing dan
didampingi oleh Fasilitator Ibu Ninik Widayanti. Diskusi berjalan dengan sangat
antusias dan produktif, dengan adanya pertukaran pendapat yang memperkaya
pemahaman kami tentang alur BAGJA. Masukan dari kelompok lain membuat ide
sederhana kami menjadi kuat dan inspiratif sebagai inovasi prakarsa perubahan
BAGJA.
Pada
tanggal 22 September 2023, kami mempelajari materi Demonstrasi Kontekstual dan
ditugaskan untuk membuat tugas yang harus diunggah ke dalam LMS untuk
meningkatkan pemahaman tentang materi yang telah dipelajari. Saya memilih
menggunakan format PDF untuk tugas demonstrasi kontekstual ini.
Pada
tanggal 26 September 2023, kami mengikuti sesi virtual dengan Instruktur Bapak
Munajat (201511579412@guruku.id), dalam tahap Elaborasi Pemahaman sebagai
penguatan untuk Modul 1.3. Dalam sesi ini, kami belajar menentukan kalimat visi
yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila, menentukan prakarsa perubahan yang
menantang, bermakna kontekstual, dan relevan. Kami memahami bahwa prakarsa
perubahan merupakan bagian integral dari visi yang ingin dicapai. Kami juga
membuat tahapan BAGJA untuk rencana perubahan di tempat kerja, dengan
menggunakan paradigma dan pendekatan Inkuiri Apresiatif, serta berkomitmen
menjalankan semua rencana perubahan tersebut di sekolah.
Feeling
(Perasaan)
Selama
mempelajari Modul 1.3 tentang visi Guru Penggerak, perasaan saya terutama
mencakup rasa senang dan semakin termotivasi untuk mendalami peran pendidikan
guru penggerak. Kesemangan ini melahirkan kebersemangan dan keyakinan dalam
menerapkan visi yang telah saya susun. Saya merasa bersemangat untuk
mengimplementasikan rencana perubahan yang telah dirancang dengan teliti. Rasa
semangat dan motivasi ini menjadi pendorong untuk menciptakan budaya positif
dalam menjalankan prakarsa perubahan, sehingga visi yang saya miliki dapat
terwujud.
Saya
aktif mengelola waktu dengan sebaik-baiknya tanpa mengabaikan kegiatan lain,
baik di lingkungan sekolah, di rumah, maupun dalam masyarakat. Hal ini sebagai
bentuk tanggung jawab saya dalam menerapkan konsep yang saya pelajari dari
Modul 1.3. Aksi nyata mulai saya lakukan dalam konteks kelas dan lingkungan
sekolah sebagai langkah konkret untuk mewujudkan visi guru penggerak yang saya
miliki.
Finding
(Pembelajaran)
Setelah
menjalani pembelajaran Modul 1.3, saya berhasil menarik beberapa temuan
berharga terkait kepemimpinan perubahan positif. Saya menyadari bahwa dalam
memimpin perubahan, strategi yang terencana dan pemahaman terhadap inkuiri
apresiatif sebagai paradigma sangatlah penting. Tahapan BAGJA, yang merupakan
singkatan dari Buat pertanyaan utama, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan
rencana, dan Atur eksekusi, merupakan model manajemen perubahan yang diadopsi
dari model 5D (Define, Discover, Dream, Design, Deliver) dalam kerangka inkuiri
apresiati.
Saya
memahami bahwa menyusun BAGJA bisa dilakukan dengan pendekatan Amati, Tiru, dan
Modifikasi. Proses ini memungkinkan kita untuk belajar dari keberhasilan orang
lain, dan kemudian mengadaptasi konsep tersebut ke dalam konteks perubahan yang
kita inginkan. Selain itu, saya menyadari bahwa melakukan perubahan positif
tidak selalu dimulai dengan mengidentifikasi masalah, tetapi lebih kepada fokus
pada kekuatan yang telah ada, sehingga pemikiran kita dapat dialihkan kepada
hal-hal yang positif.
Pentingnya
merumuskan visi sebagai guru penggerak juga menjadi salah satu pembelajaran
signifikan dari modul ini. Merumuskan visi tidak hanya tentang memiliki
gambaran masa depan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan untuk merumuskan
prakarsa perubahan yang konkret. Tahapan BAGJA memberikan kerangka kerja yang
sistematis untuk merencanakan dan mengimplementasikan perubahan.
Dengan
memahami konsep-konsep tersebut, saya merasa lebih siap dan terlatih untuk
menjalankan peran sebagai guru penggerak, yang mampu memimpin perubahan positif
dalam dunia pendidikan.
Future
(Penerapan)
Setelah
menyelesaikan modul 1.3 tentang visi guru penggerak, saya berkomitmen untuk
menerapkan dan mewujudkan visi pribadi, yaitu "Menciptakan sekolah yang
berpihak pada siswa untuk membentuk insan berkarakter dan memiliki kemampuan
abad 21 sesuai dengan profil Pelajar Pancasila." Sebagai langkah konkret,
saya akan menerapkan prakarsa perubahan yang telah saya rumuskan, yaitu
"Pembentukan karakter peserta didik."
Rencana
perubahan ini telah saya susun sesuai dengan tahapan BAGJA, dengan merinci
pertanyaan-pertanyaan yang relevan dalam setiap langkahnya. Selanjutnya, saya
akan fokus pada pembelajaran yang berpihak pada murid dan menciptakan
lingkungan pembelajaran yang nyaman. Rencana ini juga melibatkan inovasi
terus-menerus dalam mengembangkan ide-ide baru dalam proses pembelajaran.
Penting
untuk mencapai visi dan prakarsa perubahan, oleh karena itu, saya akan aktif
berkolaborasi dengan rekan sejawat dan pihak sekolah. Kerjasama ini akan
membantu dalam mengimplementasikan rencana perubahan secara lebih efektif dan
menyeluruh. Saya juga berencana melaksanakan refleksi pembelajaran secara rutin
bersama siswa dan rekan sejawat untuk mendapatkan masukan dan evaluasi yang
konstruktif.
Sebagai
seorang guru penggerak, saya berkomitmen untuk menjadi teladan di sekolah,
mendukung perkembangan karakter siswa, dan selalu berpihak pada kepentingan
murid. Melalui upaya bersama dengan seluruh pihak terkait, saya optimis dapat
mewujudkan visi dan prakarsa perubahan sebagai kontribusi positif dalam dunia
pendidikan.
Demikian
refleksi dwi mingguan saya tentang Modul 1.3 mengenai Visi Guru Penggerak. Secara
keseluruhan, Modul 1.3 telah memberikan saya wawasan yang berharga dan
memotivasi untuk terus berkembang sebagai seorang guru penggerak. Refleksi ini
menjadi tonggak penting dalam perjalanan pendidikan saya, dan saya berharap
dapat terus mengembangkan diri melalui pembelajaran yang inspiratif ini. Terima
kasih dan semoga bermanfaat.
Salam
Guru Penggerak!